SAKSIKAN ...ATRAKSI SENI TRADISIONAL SUNDA, MINGGU 20 JANUARI 2013

2013-01-17 00:00:00

Dalam rangka perayaan hari jadi Tahura Ir. H. Djuanda ke 28 akan diselenggarakan acara atraksi budaya di panggung terbuka Tahura Ir. H. Djuanda pada tanggal 20 Januari 2013. Pengunjung dapat menikmati seluruh acara tanpa dipungut bayaran (gratis).

Gerakan Penyelamatan Sumber Mata Air di Jawa Barat

2012-10-05 00:00:00

Forum Kader Konservasi Indonesia (FK3I) melakukan Gerakan Penyelematan Sumber Mata Air di Jawa Barat dengan menanam dan memelihara 5.000 pohon di Kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

Rusa di TAHURA Ir. H. Djuanda

2012-08-24 00:00:00

Untuk melengkapi obyek wisata dan menambah koleksi satwa, saat ini sudah disediakan habitat Rusa yang dapat dilihat oleh pengunjung.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H

2012-08-23 00:00:00

SEGENAP PIMPINAN DAN STAF BALAI PENGELOLAAN TAHURA Ir. H. DJUANDA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H

JALUR INTERPETASI TAMAN HUTAN RAYA Ir. H. DJUANDA ‘JALUR PENYANGGA KEHIDUPAN’

2012-08-16 00:00:00

Bagi pengunjung yang melewati jalur Jogging Track Dago Pakar – Maribaya kini tersedia papan interpretasi yang berisi informasi mengenai Fauna dan Flora, Bentang Alam dan Fitur Geologi dan jejak-jejak pemanfaatan TAHURA Djuanda dari masa ke masa.

Patahan Lembang

Pada saat sekarang fenomena alam/patahan lembang ini dapat diamati dan kita nikmati sebagai keindahan alam yang penuh pesona dan sangat menarik bagi wisatawan, khususnya bagi mereka yang belajar ilmu geologi/geomorphologi.
Selengkapnya »

GOA BELANDA

Saluran/terowongan berupa jaringan goa di dalam perbukitan ini dinamakan Goa Belanda.
Selengkapnya »

BENTENG PASIR MALANG

Benteng Pasir Malang yang merupakan tempat pertahanan/persembunyian pasukan Belanda untuk memantau perlawanan yang dilakukan oleh pejuang Indonesia.
Selengkapnya »

JALAN SETAPAK PAKAR MARIBAYA

Jalan setapak antara Pakar-Maribaya saat ini dalam kondisi baik. Perjalanan dimulai dari pintu gerbang utama Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda menuju Goa Belanda.
Selengkapnya »

CURUG OMAS

Curug Omas terletak berdekatan dengan objek wisata Maribaya. Di lokasi ini terdapat fenomena air terjun dari aliran Sungai Cikawari.
Selengkapnya »

MONUMEN IR. H. DJUANDA

Monumen Ir. H. Djuanda dibangun diatas tanah bentuk simetris, dengan tujuan sebagai tanda penghormatan atas jasa beliau sebagai pahlawan.
Selengkapnya »

PUSAT INFORMASI DAN MUSEUM

Museum Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda terletak pada ruangan yang bersebelahan dengan Pusat Informasi.
Selengkapnya »

KOLAM PAKAR

Air yang mengalir pada aliran Sungai Cikapundung di dalam kawasan Tahura Ir. H. Djuanda ditampung pada dua kolam penampungan yang berjarak 2,5 km.
Selengkapnya »

CURUG DAGO

Curug dago terletak di bagian utara kota Bandung, merupakan kawasan konservasi dan menjadi kesatuan dengan kawasan Taman hutan Raya Ir. H. Djuanda.
Selengkapnya »

BATU PRASASTI THAILAND

Batu tulis beraksara Thai, berada di situs Curug Dago, Situs ini terletak 10 kM di sebelah timur laut kota Bandung dan kedua batu terletak di tebing sungai Cikapundung.
Selengkapnya »

GOA JEPANG

Goa Jepang saat ini dapat dimasuki dengan aman dan dijadikan sebagai tempat wisata yang penuh pesona karena alam sekitarnya yang sangat indah dan memiliki nilai sejarah.
Selengkapnya »

Weekend di TAHURA Ir. H. Djuanda

26 Agustus 2010 11:24:33

Bosan dengan suasana kota yang ramai dan sumpek di akhir minggu? Anda pastinya akan mencari suasana yang berbeda dengan hari kerja. Suasana pegunungan yang tenang dan sejuk mungkin menjadi pilihan sebagian besar dari anda. Nah, jika anda berkesempatan ke Kota Bandung pada akhir minggu dan mendambakan suasana seperti itu, maka datanglah ke Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Tahura yang dikonsepkan menjadi daerah konservasi alam ini berada sekitar ± 7 km di sebelah utara Kota Bandung. Tahura terhampar luas mulai dari kawasan Dago Pakar hingga kawasan Lembang dan Maribaya. Sesuai dengan namanya, Tahura ini memberikan efek yang sama ketika kita berada di Kebun Raya Bogor, yang berbeda adalah pohon-pohon di Tahura tidak sebesar-besar di Kebun Raya Bogor. Di Tahura kita juga akan menjumpai beberapa tempat yang memberikan pengalaman berbeda-beda, karena kita bisa menjumpai arena bermain, gua, hingga air terjun. Jika diurut dari awal, tempat-tempat yang bisa kita kunjungi di taman hutan seluas ± 526,98 hektare ini, yaitu Curug Dago dan batu prasasti kerajaan Thailand, panggung terbuka, kolam PLTA Bengkok, monumen Ir. H. Djuanda dan pusat informasi (museum mini) tahura, taman bermain, Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya, Panorama Alam Hutan Raya, jogging track ke Maribaya, dan Patahan Lembang. Tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan biasanya adalah Goa Jepang dan Goa Belanda, karena cukup dekat dijangkau dengan berjalan kaki. Goa Jepang berada sejauh ± 600 meter dari pintu masuk Dago Pakar. Goa buatan yang dibangun pada tahun 1942 ini cukup unik karena memiliki empat pintu yang saling terhubung di dalam kecuali pada pintu kedua yang dimaksudkan sebagai pintu pengecoh. Goa milik Jepang ini dulunya dibangun oleh orang-orang Indonesia yang menjadi romusha Jepang. Goa sepanjang ± 70 meter ke dalam ini difungsikan sebagai tempat perlindungan sekaligus pusat pertahanan Jepang di Bandung utara. Di dalamnya, terdapat empat buah kamar yang dulunya dipakai istirahat panglima tentara Jepang. Untuk menelusuri ke dalam Goa ini, anda biasanya akan diminta menyewa sebuah senter seharga tiga ribu rupiah dan anda juga akan dipandu oleh pemandu. Walaupun gelap, Goa Jepang tidak terkesan angker karena Goa ini cukup bersih dan ramai dimasuki pengunjung. Setelah menjelajah Goa Jepang, empat ratus meter selanjutnya anada akan bertemu dengan Goa Belanda. Goa Belanda berukuran lebih luas dari pada Goa Jepang. Goa peninggalan Belanda yang dibangun pada 1941 ini dulu digunakan sebagai terowongan PLTA Bengkok. Kawasan Dago Pakar dianggap sangat menarik, karena selain kawasannya yang terlindung, tempat ini juga dekat dengan pusat Kota Bandung. Makanya, pada awal perang dunia II tahun 1941, Militer Hindia Belanda membangun stasiun radio telekomunikasi. Bangunan itu berupa jaringan goa di dalam perbukitan batu pasir tufaan. Saat perang memuncak, goa ini berfungsi sebagai pusat komunikasi rahasia tentara Belanda, sedangkan pada masa kemerdekaan dimanfaatkan sebagai gudang mesiu. Lokasi selanjutnya, yakni Curug Lalay, Curug Omas, dan patahan Lembang, lokasinya cukup jauh sehingga dibutuhkan kendaraan untuk mencapainya. Jika anda penasaran, tetapi tidak punya kendaraan sendiri, anda bisa naik ojek dengan ongkos Rp 20.000 bisa ditawar. Curug Lalay dan Curug Omas Maribaya kedua-duanya mengalir di Sungai Cikapundung. Namun, jika anda ingin sedikit berkeringat dan menyukai tantangan, maka disini juga tersedia jogging track untuk anda hingga ke Maribaya. Jangan lupa, jika anda ingin mengetahui lebih jauh dengan Tahura Ir. H. Djuanda, anda dapat mengunungi pusat informasinya. Disana, terdapat museum mini yang berisi sedikit kilasan sejarah Ir. H. Djuanda yang tergambar pada foto-fotonya dan beberapa peninggalan penghargaan dan medali milik beliau. Selain itu, juga terdapat profil flora dan fauna yang ada di Tahura. Di sebelah luar pusat informasi, kita akan diajak melihat patung Ir. H. Djuanda, sang Perdana Menteri pertama Republik Indonesia yang namanya diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya di kawasan Dago Pakar ini. Selanjutnya, Tahura juga akan mengembangkan fasilitas berupa penginapan dan konsep family outbond. Jadi, jika suatu anda dan keluarga mencari tempat yang tenang untuk refreshing, Tahura dapat menjadi alternatif utama. Aksesibilitas menuju tempat ini cukup mudah. Karena ukurannya yang luas, kawasan ini memeiliki beberapa akses masuk, yaitu pintu masuk utama di Dago Pakar, pintu masuk Kolam Pakar di PLN Ciburial, dan pintu masuk Maribaya di Lembang. Semua jenis kendaraan dapat mencapai pintu gerbang dengan kondisi jalan beraspal hotmix yang cukup baik. Tetapi, apabila anda memilih untuk naik kendaraan umum, maka pilihlah angkot yang menuju terminal Dago. Setelah berhenti di terminal Dago, anda bisa memilih untuk berjalan kaki sejauh ± 3 km atau naik ojek seharga Rp 5.000. Selanjutnya, anda akan dikenai ongkos masuk sebesar Rp 8.000 per kepala dan suasana hutan pinus yang sejuk akan menyambut anda.
Selengkapnya »

  • Weekend di TAHURA Ir. H. Djuanda

    26 Agustus 2010 11:24:33

    Bosan dengan suasana kota yang ramai dan sumpek di akhir minggu? Anda pastinya akan mencari suasana yang berbeda dengan hari kerja. Suasana pegunungan yang tenang dan sejuk mungkin menjadi pilihan sebagian besar dari anda. Nah, jika anda berkesempatan ke Kota Bandung pada akhir minggu dan mendambakan suasana seperti itu, maka datanglah ke Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Tahura yang dikonsepkan menjadi daerah konservasi alam ini berada sekitar ± 7 km di sebelah utara Kota Bandung. Tahura terhampar luas mulai dari kawasan Dago Pakar hingga kawasan Lembang dan Maribaya. Sesuai dengan namanya, Tahura ini memberikan efek yang sama ketika kita berada di Kebun Raya Bogor, yang berbeda adalah pohon-pohon di Tahura tidak sebesar-besar di Kebun Raya Bogor. Di Tahura kita juga akan menjumpai beberapa tempat yang memberikan pengalaman berbeda-beda, karena kita bisa menjumpai arena bermain, gua, hingga air terjun. Jika diurut dari awal, tempat-tempat yang bisa kita kunjungi di taman hutan seluas ± 526,98 hektare ini, yaitu Curug Dago dan batu prasasti kerajaan Thailand, panggung terbuka, kolam PLTA Bengkok, monumen Ir. H. Djuanda dan pusat informasi (museum mini) tahura, taman bermain, Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya, Panorama Alam Hutan Raya, jogging track ke Maribaya, dan Patahan Lembang. Tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan biasanya adalah Goa Jepang dan Goa Belanda, karena cukup dekat dijangkau dengan berjalan kaki. Goa Jepang berada sejauh ± 600 meter dari pintu masuk Dago Pakar. Goa buatan yang dibangun pada tahun 1942 ini cukup unik karena memiliki empat pintu yang saling terhubung di dalam kecuali pada pintu kedua yang dimaksudkan sebagai pintu pengecoh. Goa milik Jepang ini dulunya dibangun oleh orang-orang Indonesia yang menjadi romusha Jepang. Goa sepanjang ± 70 meter ke dalam ini difungsikan sebagai tempat perlindungan sekaligus pusat pertahanan Jepang di Bandung utara. Di dalamnya, terdapat empat buah kamar yang dulunya dipakai istirahat panglima tentara Jepang. Untuk menelusuri ke dalam Goa ini, anda biasanya akan diminta menyewa sebuah senter seharga tiga ribu rupiah dan anda juga akan dipandu oleh pemandu. Walaupun gelap, Goa Jepang tidak terkesan angker karena Goa ini cukup bersih dan ramai dimasuki pengunjung. Setelah menjelajah Goa Jepang, empat ratus meter selanjutnya anada akan bertemu dengan Goa Belanda. Goa Belanda berukuran lebih luas dari pada Goa Jepang. Goa peninggalan Belanda yang dibangun pada 1941 ini dulu digunakan sebagai terowongan PLTA Bengkok. Kawasan Dago Pakar dianggap sangat menarik, karena selain kawasannya yang terlindung, tempat ini juga dekat dengan pusat Kota Bandung. Makanya, pada awal perang dunia II tahun 1941, Militer Hindia Belanda membangun stasiun radio telekomunikasi. Bangunan itu berupa jaringan goa di dalam perbukitan batu pasir tufaan. Saat perang memuncak, goa ini berfungsi sebagai pusat komunikasi rahasia tentara Belanda, sedangkan pada masa kemerdekaan dimanfaatkan sebagai gudang mesiu. Lokasi selanjutnya, yakni Curug Lalay, Curug Omas, dan patahan Lembang, lokasinya cukup jauh sehingga dibutuhkan kendaraan untuk mencapainya. Jika anda penasaran, tetapi tidak punya kendaraan sendiri, anda bisa naik ojek dengan ongkos Rp 20.000 bisa ditawar. Curug Lalay dan Curug Omas Maribaya kedua-duanya mengalir di Sungai Cikapundung. Namun, jika anda ingin sedikit berkeringat dan menyukai tantangan, maka disini juga tersedia jogging track untuk anda hingga ke Maribaya. Jangan lupa, jika anda ingin mengetahui lebih jauh dengan Tahura Ir. H. Djuanda, anda dapat mengunungi pusat informasinya. Disana, terdapat museum mini yang berisi sedikit kilasan sejarah Ir. H. Djuanda yang tergambar pada foto-fotonya dan beberapa peninggalan penghargaan dan medali milik beliau. Selain itu, juga terdapat profil flora dan fauna yang ada di Tahura. Di sebelah luar pusat informasi, kita akan diajak melihat patung Ir. H. Djuanda, sang Perdana Menteri pertama Republik Indonesia yang namanya diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya di kawasan Dago Pakar ini. Selanjutnya, Tahura juga akan mengembangkan fasilitas berupa penginapan dan konsep family outbond. Jadi, jika suatu anda dan keluarga mencari tempat yang tenang untuk refreshing, Tahura dapat menjadi alternatif utama. Aksesibilitas menuju tempat ini cukup mudah. Karena ukurannya yang luas, kawasan ini memeiliki beberapa akses masuk, yaitu pintu masuk utama di Dago Pakar, pintu masuk Kolam Pakar di PLN Ciburial, dan pintu masuk Maribaya di Lembang. Semua jenis kendaraan dapat mencapai pintu gerbang dengan kondisi jalan beraspal hotmix yang cukup baik. Tetapi, apabila anda memilih untuk naik kendaraan umum, maka pilihlah angkot yang menuju terminal Dago. Setelah berhenti di terminal Dago, anda bisa memilih untuk berjalan kaki sejauh ± 3 km atau naik ojek seharga Rp 5.000. Selanjutnya, anda akan dikenai ongkos masuk sebesar Rp 8.000 per kepala dan suasana hutan pinus yang sejuk akan menyambut anda.

  • Info Wisata Sekitara Tahura Ir. H. Djuanda

    26 Agustus 2010 11:01:37

    Ada beberapa pintu masuk untuk memasuki tempat ini. Yang pertama pintu masuk di daerah Lembang, yang merupakan pintu IV. Masuk melalui pintu ini, Anda tidak perlu menempuh jarak terlalu jauh untuk mencapai air terjun terdekat yaitu Curug Omas. Tiket masuk yang harus dibayar per orang adalah Rp 8.000,- dan Rp 10.000,- untuk parkir mobil. Menurut petugas, hanya dengan jarak 800 meter Anda dapat melihat air terjun ini. Memasuki taman melalui pintu IV ini, Anda dapat melihat peta yang berisi gambar beberapa tempat-tempat menarik yang ada di taman hutan yang terletak di Kecamatan Cicadas dan Kecamatan Lembang dari kota Bandung. Peta ini juga menunjukkan arah yang harus dipilih untuk menuju tempat tersebut. Beberapa tempat yang ada di sini yang menarik dikunjungi adalah Air Terjun atau Curug Omas, Curug Lalay, Curug Dago, Patahan Lembang, Gua Jepang, Gua Belanda, dan beberapa prasasti. Selain itu, bersebelahan dengan Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, terdapat tempat yang cukup terkenal sejak jaman Belanda yaitu Maribaya. Curug Dago, Goa Jepang atau Goa Belanda akan lebih mudah dicapai jika Anda masuk melalui pintu I atau pintu II yang ada di kawasan Dago. Karena luasnya wilayah taman hutan ini, Anda dapat masuk melalui pintu IV dan keluar di pintu lain yang ada di sisi satunya yang sudah berada di kawasan Dago. Menurut petugas diperlukan waktu 2 jam berjalan kaki dari pintu yang ada di Lembang sampai menuju pintu yang ada di Dago maupun sebaliknya. Tantangan ini cocok untuk Anda yang menyukai alam dan senang untuk berolahraga.

<< Oktober 2014 >>
MgSnSlRbKmJmSb
   1234
567891011
12131415161718
1920212223
24
25
262728293031 

Daerah Cekungan Bandung