Flora

Mahoni UgandaBunga BangkaiCemara SumateraMerantiPohon SosisEucalyptus

Mahoni Uganda

Pohon Mahoni Uganda menjadi daya tarik sendiri bagi ribuan pengunjung Taman Hutan Raya Ir. Juanda.

Mahoni Uganda merupakan koleksi flora yang tumbuh dengan subur di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Selain jarang di jumpai di kawasan lain, tumbuhan ini menarik perhatian karena memiliki batang pohon dengan diameter yang cukup lebar jika dibandingkan pohon lainnya.

Nama botani Mahoni Uganda adalah Khaya Anthoteca termasuk keluarga Meliaceae, daerah penyebarannya berasal dari Afrika Barat. Tinggi pohon Mahoni Uganda ini bisa mencapai 54 meter dan diameter mencapai 120 cm. Batang lurus berbentuk silindris dan tidak berbanir. Kulit luar berwarna cokelat kehitaman, beralur dangkal seperti sisik, sedangkan kulit batang berwarna abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi cokelat tua, beralur dan mengelupas setelah tua. Mahoni baru berbunga setelah berumur 7 tahun, mahkota bunganya silindris, kuning kecoklatan, benang sari melekat pada mahkota, kepala sari putih, kuning kecoklatan. Buahnya buah kotak, bulat telur, berlekuk lima, warnanya cokelat. Biji pipih, warnanya hitam atau cokelat. Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-tempat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung. Tanaman yang asalnya dari Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat dengan pantai.

Pohon mahoni bisa mengurangi polusi udara sekitar 47% – 69% sehingga disebut sebagai pohon pelindung sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air. Daun-daunnya bertugas menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Sebaliknya, dedaunan itu akan melepaskan oksigen (O2) yang membuat udara di sekitarnya menjadi segar. Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar pepohonan itu akan mengikat air yang jatuh, sehingga menjadi cadangan air. Buah mahoni mengandung flavonoid dan saponin. Buahnya dilaporkan dapat melancarkan peredaran darah sehingga para penderita penyakit yang menyebabkan tersumbatnya aliran darah disarankan memakai buah ini sebagai obat, mengurangi kolesterol, penimbunan lemak pada saluran darah, mengurangi rasa sakit, pendarahan dan lebam, serta bertindak sebagai antioksidan untuk menyingkirkan radikal bebas, mencegah penyakit sampar, mengurangi lemak di badan, membantu meningkatkan sistem kekebalan, mencegah pembekuan darah, serta menguatkan fungsi hati dan memperlambat proses pembekuan darah.

Sifat Mahoni yang dapat bertahan hidup di tanah gersang menjadikan pohon ini sesuai ditanam di tepi jalan. Bagi penduduk Indonesia khususnya Jawa, tanaman ini bukanlah tanaman yang baru, karena sejak zaman penjajahan Belanda mahoni dan rekannya, Pohon Asam, sudah banyak ditanam di pinggir jalan sebagai peneduh terutama di sepanjang jalan yang dibangun oleh Daendels antara Anyer sampai Panarukan. Sejak 20 tahun terakhir ini, tanaman mahoni mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kualitas kayunya keras dan sangat baik untuk meubel, furnitur, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan. Sering juga dibuat penggaris karena sifatnya yang tidak mudah berubah. Kualitas kayu mahoni berada sedikit dibawah kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai primadona kedua dalam pasar kayu. Pemanfaatan lain dari tanaman mahoni adalah kulitnya dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan tidak mudah luntur. Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan baku lem, dan daun mahoni untuk pakan ternak.

Ekstrak biji pohon mahoni juga dapat digunakan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama pada pertanaman kubis, yaitu Plutella xylostella dan Crocidolomia binolalis khususnya pada saat hama berada pada stadia larva. Penggunaan insektisida botani merupakan salah satu alternatif pengendalian yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif akibat penggunaan insektisida sintetik yang tidak bijaksana.

Bunga Bangkai

20150216_073941Bunga bangkai ( Amorphophallus titanum ) merupakan bunga yang berukuran raksasa selain kembang Rafflesia Arnoldi. Bunga raksasa ini banyak ditemukan di kawasan hutan Sumatera. Berbeda dengan Rafflesia, bunga bangkai memiliki rona krem pada bagian luarnya dan bagian nan menjulang ke atas. Mahkota bunga raksasa ini pun memiliki rona merah keunguan. Pertumbuhan bunga raksasa ini pun melebar ke samping, berbeda dengan Rafflesia nan tumbuh menjulang ke atas.

Bunga bangkai termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan yang merupakan tumbuhan dengan kembang beragam terbesar di dunia. Berbeda dengan Rafflesia yang tak bisa tumbuh atau dibudidayakan di daerah lain, kembang raksasa ini bisa dibudidayakan. Hal lain yang membedakannya dengan bunga Rafflesia ialah bunga raksasa ini tumbuh di atas umbi sendiri sehingga tak parasit.

Bunga raksasa ini mengalami 2 fase dalam hidupnya yang muncul secara bergantian dan terus-menerus, yaitu fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi akan muncul batang tunggal dan daun yang hampir mirip dengan pohon pepaya. Tinggi pohonnya dapat mencapai 6 meter.

Setelah beberapa tahun, organ generatif bunga raksasa ini akan layu kecuali umbinya. Jika lingkungan mendukung dan umbinya memenuhi syarat untuk tumbuh, pohon ini akan digantikan dengan tumbuhnya kembang raksasa ini. Tumbuhnya kembang beragam menggantikan pohon yang layu merupakan fase generatif tanaman bunga raksasa ini.

Budidaya

Spesies bunga langka ini diidentifikasikan pertama kali pada 1878 oleh seorang ilmuwan Italia bernama Odoardo Beccari di Sumatera, Indonesia. Sejak saat itu, bunga langka ini dibawa sekaligus dibudidayakan di berbagai taman nabati yang ada di seluruh dunia. Setelah sepuluh tahun ditemukan, bunga raksasa yang sangat langka ini sukses mengembang di kebun London dan mengembang kembali pada 1926.

Rekor Paling Besar

Sampai 2005 lalu, rekor bunga langka ini yang tertinggi di penangkaran dipegang oleh Kebun Raya Bonn, Jerman. Di sana, bunga ini tumbuh sampai ketinggian 2,74 meter pada 2003. Lalu, pada 20 Oktober 2005, rekor tersebut sukses dipecahkan oleh Kebun Nabati dan Hewani Wilhelma di Stuttgart, Jerman. Tinggi bunga ini ialah sekitar 2,91 meter.

Sementara itu, Kebun Raya Cibodas di Indonesia pernah mengklaim mempunyai bunga raksasa yang tingginya mencapai 3,17 meter pada dini hari tanggal 11 Maret 2004. Pada waktu itu, bunga ini mengembang selama satu minggu. Lalu, pada 2010, rekor baru kembali muncul. Pada 18 Juni 2010, Louis Ricciardiello pernah mengklaim bahwa specimen bunga ini sempat mencapai tinggi sekitar 3,1 meter di taman nabati Orchids Winnipesaukee, New Hampshire, Amerika Serikat. Rekor terakhir ini lalu sukses dicatatkan pada Guinness World Record.

Bunga Bangkai Tumbuh Sempurna di Tahura Djuanda

Bunga raksasa dan langka orisinil Indonesia yang tumbuh di Taman Hutan Raya, Bandung, Provinsi Jawa Barat, sempat mengembang dengan paripurna pada Desember 2012 lalu. Peristiwa tersebut terjadi bersamaan dengan akhir pekan, sehingga otomatis menarik perhatian para pengunjung Taman Hutan Raya yang memang selalu ramai pada hari Sabtu atau hari Minggu.

Berdasarkan klarifikasi dari Kepala Seksi Perlindungan Balai Pengelolaan Tahura Ir. H. Djuanda, proses mekarnya kembang langka ini dimulai satu hari sebelumnya, yaitu pada hari Jum’at pukul sebelas siang. Bunga ini baru mengembang dengan sangat paripurna saat petang hari atau sekitar pukul 18.00 WIB.

Sementara itu, tinggi tongkol mahkota bunga yang warnanya kuning muda ini ialah sekitar 193 sentimeter dengan diameter mahkota sekitar 86,6 sentimeter. Tanaman langka ini diambil dari daerah Bengkulu pada 2006, yaitu berasal dari Cagar Alam Taba Penanjung. Setelah itu, mulai ditanam di Taman Hutan Raya Ir. H.  Djuanda sebanyak empat umbi pada bulan Januari 2007.

Cemara Sumatera

Cemara Sumatera adalah salah satu dari sangat sedikit tumbuhan atau pohon yang memproduksi O2 atau oksigen terus menerus selama 24 jam. Dengan kata lain satu pohon Cemara Sumatera akan terus mengeluarkan oksigen selama ia masih hidup.

Dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Biologi, kita mengetahui bahwa tumbuhan hanya akan melakukan proses fotosintesis pada siang hari saja saat adanya cahaya matahari. Sementara di malam hari tumbuhan tidak melakukan kegiatan asimilasi karena tidak adanya cahaya matahari, bahkan ada sebagian tumbuhan yang melakukan proses sekresi yang menghasilkan gas karbondioksida.

Namun Cemara Sumatera memiliki keistimewaan, ia terus menerus mengeluarkan gas oksigen sepanjang waktu. Gas oksigen itu selain dari hasil fotosintesis, juga dikarenakan proses reaksi kimia metana yang terus menerus berlangsung di dalam organ tubuh Cemara Sumatera ini yang memproduksi oksigen sehingga tumbuhan ini akan terus mengeluarkan oksigen ke udara sekitarnya. Inilah yang mengakibatkan udara di dekat tumbuhan ini tetap selalu sejuk dan segar, termasuk saat malam hari dimana tumbuhan lain tidak ada yang memproduksi oksigen.

Cemara Sumatera merupakan salah satu jenis pohon berdaun jarum yang yang tumbuh secara alamiah di Indonesia (Sumatera) Cemara Sumatera tumbuh secara alami di hutan sub tropis atau hutan hujan pegunungan di Pulau Sumatera dan Sulawesi pada ketinggian 1.400 – 2.300 meter dari permukaan laut (Spjut 2003). Ia bisa berupa semak, pohon rendah (seperti yang ditemukan di Taman Resort Simalem, Kabupaten Karo, Sumatera Utara) dan ada juga yang menjadi pohon tinggi yang dapat mencapai 30 m. Penyebaran alami jenis ini mencakup wilayah Afganistan, Tibet, Nepal, Bhutan, Burma, Vietnam, Taiwan dan Cina. Semuanya adalah negara-negara di kawasan tropis dan subtropis dekat garis khatulistiwa.

Meranti Tembaga

Meranti tembaga umumnya dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 1000 m dpl di tempat yang ada pengaliran air, di lereng pegunungan pada tanah yang kaya akan silt dan kwarsa dan pada tanah dengan batuan induk endapan (Anonim, 1983).

Menurut Anonim (1983), di Indonesia umumnya terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Sedangkan di luar Indonesia terdapat di Malaysia, Philipina, India dan Srilangka. Jenis ini membutuhkan banyak hari hujan.

Tinggi pohon dapat mencapai 40 – 50 m atau lebih. Batang bebas cabang sampai 30 m. Diameter umumnya sekitar 80 – 100 cm atau lebih, mempunyai akar banir yang nyata dengan tinggi 1 – 2 m atau lebih. Tajuk lebat dan selalu hijau. Bentuk tajuk pada permukaan pertumbuhan panjang dan silindris, tetapi setelah mencapai tinggi maksimal tajuknya tumbuh ke arah horisontal seperti bentuk kubah.

Tebal kulit luar umumnya 1-5 mm, kadang mencapai 10-15 mm dengan warna coklat tua, merah tua, sampai abu-abu. Batang beralur dangkal sampai dalam, tapi ada yang tidak beralur dan umumnya kulit mengelupas. Kayu gubal berwarna merah muda sampai kuning muda, kayu teras berwarna merah tua kecoklatan sampai merah kekuningan. Bentuk batang lurus, tinggi batang bebas cabang 15-30 m.

Berdaun tunggal, pada umumnya berbentuk bulat sampai lancet, elips. Melancip pada ujungnya, tulang daun sebelah bawah menonjol. Permukaan daun atas licin, bawah kasar dan berbulu halus. Tangkai daun ramping, panjang 1-2 cm. Pangkal daun membulat dan melancip pada ujungnya.

Buah berbentuk bulat telur sampai bulat panjang, ujung buah melancip di tengah, dikelilingi bulu halus berwarna pucat dan mempunyai sayap.

Meranti merah tergolong kayu keras berbobot ringan sampai berat-sedang. Berat jenisnya berkisar antara 0,3 – 0,86 pada kandungan air 15%. Kayu terasnya berwarna merah muda pucat, merah muda kecoklatan, hingga merah tua atau bahkan merah tua kecoklatan. Berdasarkan berat jenisnya, kayu ini dibedakan lebih lanjut atas meranti merah muda yang lebih ringan dan meranti merah tua yang lebih berat. Namun terdapat tumpang tindih di antara kedua kelompok ini, sementara jenis-jenis Shorea tertentu kadang-kadang menghasilkan kedua macam kayu itu.

Menurut kekuatannya, jenis-jenis meranti merah dapat digolongkan dalam kelas kuat II-IV; sedangkan keawetannya tergolong dalam kelas III-IV. Kayu ini tidak begitu tahan terhadap pengaruh cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk penggunaan di luar ruangan dan yang bersentuhan dengan tanah. Namun kayu meranti merah cukup mudah diawetkan dengan menggunakan campuran minyak diesel dengan kreosot.

Menurut Heyne (1987), kayunya banyak dipakai untuk papan lantai, dan peti kemas. Di Singapura dikenal dengan seraya batu. Di Palembang kulit kayunya mengalir mengeluarkan damar dalam wujud linangan-linangan keruh atau seperti susu yang cepat melapuk. Linangan-linangan seperti ini ditemukan dimana saja, baik pada batang maupun pada cabang-cabangnya yang terkecil, yang oleh masyarakat disebut dengan damar daging. Kegunaannya untuk menguatkan otot-otot serta menjadikannya keras yang diminumkan kepada anak-anak dan gadis dengan cara dicampurkan pada jamu.

Sedangkan menurut Iding dan Abdurachim (1873) dalam buku Anonim (1983), kayunya dapat digunakan untuk bangunan, vinir, kayu lapis, meubel, lantai papan, dinding, bahan pembungkus dan pulp.

Pohon Sosis

 

Pohon Sosis 1

 

Pohon ini adalah pohon sosis atau Sausage Tree dengan nama lain Kigelia Pinnata termasuk dalam keluarga bignoniaceae dari ordo lamiales. Tepatnya urutan klasifikasinya sebagai berikut; kerajaan Plantae, divisi Angiosperms, sub divisi Eudicots, kelas Asterids, ordo Lamiales, famili Bignoniaceae, suku Coleeae, genus Kigelia. Dan untuk spesiesnya menurut wikipedia hanya memiliki satu spesies.

Pohon ini juga memiliki nama lain. Menurut beberapa sumber yang saya baca sinonim namanya diantaranya Sausage Tree, Kigelia Africana, Pohon Mentimun, Bignonia Africana Lam., Kigelia Abyssinica A. Rich., Kigelia Acutifolia Engl. ex Sprague, Kigelia Aethiopum (Fenzl.) Dandy, Kigelia Ellioti Sprague, Kigelia Elliptica Sprague, Kigelia Impressa Sprague, Kigelia Spragueana Wernham, Tecoma Africana (Lam.) G.Don, Crescentia Pinnata Jacq., Kigelia Abyssinica A.Rich., Kigelia aethiopica Decne.

Nama Kigelia sendiri berasal dari bahasa Swahili (bahasa yang dipakai di Kenya dan Tanzania).

Asal pohon sosis sendiri sebenarnya dari Afrika Selatan dan Afrika Tenggara dengan habitat hutan di pinggiran sungai atau sepanjang sungai, padang rumput sabana dan pinggiran hutan. Buah sosis sangat disukai babon, gajah, jerapah dan kuda nil.

Buahnya lonjong mirip sosis dengan kulit yang keras seperti kayu. Tinggi pohon dewasa sekitar 20 m. Kulit berwarna abu-abu dan halus pada awalnya. Kayunya coklat muda atau kekuning-kuningan, tidak rentan terhadap retak.

Pohon berwarna hijau saat curah hujan terjadi sepanjang tahun, namun gugur kala musim kemarau panjang. Daun berlawanan atau memiliki alur berputar tiga, menyirip, dengan enam sampai sepuluh lembar. Panjang 20 cm dan lebar kurang lebih 6 cm.

Bunga-bunga dan buah menggantung dari cabang-cabang pada batang fleksibel panjang (2-6 meter). Bunga diproduksi dalam malai berbentuk lonceng (mirip pohon Tulip Afrika tapi lebih gelap dan lebih seperti lilin), berwarna oranye kemerahan atau hijau keunguan, dan lebar sekitar 10 cm. Bunga individu tidak menggantung tetapi horizontal. Bau bunganya sangat khas di malam hari sehingga menarik kelelawar. Penyerbukan bunga terjadi di malam hari.

Buahnya berkayu dengan panjang antara 30-100 cm dan lebar 18 cm. Memiliki berat kira-kira 5-10 kg, dan menggantung. Daging buahnya yang berserat dan lembek berisi banyak biji. Daging buah ini merupakan makanan beberapa spesies mamalia termasuk Punt, Bushpigs, gajah Savannah, jerapah, kuda nil, monyet, dan landak. Benih-benih tersebut tersebar dalam kotorannya. Benih-benih tersebut lalu dimakan oleh parrot abu-abu.

Dalam pengobatan herbal Afrika, buah ini diyakini sebagai obat untuk berbagai macam penyakit, mulai dari rematik, gigitan ular, roh jahat, sifilis, malaria, disentri, diabetes, pneumonia dan bahkan tornado. Buah mentahnya beracun dan berfungsi sebagai pencahar. Buah bisa dikonsumsi jika dikeringkan, dipanggang atau difermentasi. Bagus juga untuk mengobati problem penyakit kulit, seperti infeksi jamur, eksim, terbakar, lepra, kanker dan sebagainya. Untuk kecantikan buah sosis difungsikan sebagai penghalus kulit. Sedangkan bijinya untuk bahan pembuat bir. Di Botswana kayunya digunakan untuk makoros, belenggu dan dayung.

Eucalyptus

Eucalyptus adalah sejenis pohon dari Australia. Ada lebih dari 700 spesies dari Eucalyptus, kebanyakan asli dari Australia, dengan beberapa dapat ditemukan di Papua Nugini dan Indonesia dan juga sampai Filipina. Kebanyakan Eucalyptus tidak tahan suhu dingin, mereka hanya tahan hingga suhu sekitar -3 °C hingga -5 °C.

Minyak esensial didapat dari daun Eucalyptus mengandung senyawa yang merupakan disinfektan alami yang kuat dan dapat menjadi racun dalam jumlah banyak. Beberapa herbivora marsupialia, terutama koala dan beberapa oposum, toleran terhadap minyak tersebut sehingga dapat memakan daun-daunan Eucalyptus.

Eucalyptus memiliki banyak kegunaan yang membuat mereka menjadi pohon yang penting secara ekonomi. Mungkin jenis Karri dan Eucalyptus melliodora merupakan jenis yang paling terkenal. Dikarenakan mereka cepat tumbuh dan kegunaan dari kayunya. Kayunya dapat digunakan sebagai hiasan, timber, kayu bakar, dan kayu pulp. Eukaliptus menyerap banyak air dari tanah melalui proses transpirasi. Mereka ditanam di banyak tempat untuk mengurangi water table dan mengurangi salinasi tanah.

Minyak Eucalyptus siap di distilasi kukus dari daunnya dan dapat digunakan sebagai pembersih, pewangi, dan dalam jumlah kecil dalam suplemen makanan; terutama permen, cough drops, dan decongestants. Minyak eukaliptus juga memiki sifat menolak serangga, dan telah digunakan sebagai bahan dari penolak nyamuk komersial.

Nektar dari beberapa Eucalyptus menghasilkan madu monofloral berkualitas tinggi. Daun dari ghost gum digunakan oleh suku Aborigin untuk menangkap ikan. Membasahi daunnya dalam air dapat melepas pelumpuh yang melumpuhkan ikan sementara.

Eucalyptus juga digunakan untuk membuat digeridoo, sebuah instrumen musik udara yang dipopulerkan oleh orang aborigin Australia.

BERITA TERBARU
Acara THR.Ir.H.Djuanda, Labo KRETA HERBSAYS, Bandung Sketcwalk.
PIKNIK DI HUTAN Dengan mengangkat tema “Berpiknik Bergembira Bersama” dan “Merayakan Toleransi Keb......


PIC_0669
TAHURA Trail Running Race 2017 23 Januari 2017 Tahura Trail Running Race 2017 event tahunan lari marathon diselenggarakan oleh Indo......


Tahura Tahun Baru
Selamat Tahun Baru 2017     Segenap Pimpinan & Staff Tahura Ir. H. Djuanda mengucapkan…. ” SELAMAT......


IMG_20161228_105405
Penanaman Pohon Obat Tradisional Berdasarkan kenyataan hingga sekarang sumber simplisia nabati sebagian masih diperoleh dengan meneb......


FB_IMG_1482452094333
Festival Cikapundung Festival ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki kawasan sungai Cikapundung agar tidak terc......


'