Objek Wisata

Monumen Ir. H. DjuandaMuseum Ir. H. DjuandaCurug DagoCurug LalayCurug OmasGoa BelandaGoa JepangPrasasti Batu Raja ThailandTebing Keraton

Monumen Ir. H. Djuanda

IMGP2744

 

 

Karena begitu besarnya jasa-jasa yang Beliau berikan untuk bangsa Indonesia, maka dibuatkanlah Monumen sesuai dengan nama Beliau untuk mengenang seluruh perjuangannya bagi bangsa ini. Di area ini banyak pengunjung yang sengaja mengabadikan kunjungannya ke Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dengan berfoto di depan monumen Beliau.

Siapakah beliau? Apakah jasa terbesar Ir. H. Djuanda bagi Indonesia?

Ir. H. Djuanda adalah perdana menteri terakhir di era penerapan demokrasi parlementer di Indonesia. Jasa terbesar beliau bagi Indonesia adalah mengumumkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957. Pada deklarasi tersebut dinyatakan bahwa semua pulau dan laut nusantara adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Sebelum Deklarasi Djuanda, masyarakat internasional hanya mengakui batas laut teritorial adalah 3 mil laut terhitung dari garis pantai terendah.

Akibatnya negara kepulauan seperti Indonesia tersusun dari pulau-pulau yang terpisah oleh perairan internasional. Misalnya antara pulau Sulawesi & Nusa Tenggara terdapat perairan internasional, demikian juga antara pulau Jawa & Kalimantan, dan antara Kalimantan & Sulawesi. Itu artinya kapal-kapal asing bebas berlalu-lalang diantara pulau-pulau Indonesia sehingga akan mempersulit penjagaan kedaulatan wilayah Indonesia.

Pasca Dekalarasi Djuanda tidak ada lagi perairan internasional di antara pulau-pulau nusantara. Wilayah Indonesia merupakan satu kesatuan yang utuh dengan batas-batas laut berada pada pulau-pulau terluar.

Deklarasi Djuanda juga membuat luas wilayah Indonesia bertambah menjadi lebih dari 5 juta km2. Di dalam wilayah perairan Indonesia terdapat belasan ribu pulau dan dikelilingi garis pantai sepanjang puluhan ribu kilometer. Wilayah laut yang sangat luas tersebut menjadikan Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah, mulai dari sektor perikanan, sumber daya bioteknologi kelautan, minyak bumi & mineral hingga wisata bahari.

Pada saat diumumkan, Deklarasi Djuanda ditentang oleh Amerika Serikat dan Australia. Namun kemudian berhasil diperjuangkan oleh Djuanda dan para penerusnya seperti Mochtar Kusumaatmadja dan Hasyim Djalal, sehingga konsep negara Nusantara diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB, United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) 1982.

Tokoh yang ditangkap Belanda pada saat Agresi Militer II (1948) dan menolak ketika dibujuk Belanda untuk ikut serta dalam Pemerintahan Negara Pasundan, semasa hidupnya beberapa kali memangku jabatan menteri. Beliau juga menjadi Ketua Panitia Ekonomi dan Keuangan Delegasi Indonesia pada perundingan KMB (Konferensi Meja Bundar) yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Pemerintahan Republik Indonesia.

Salah seorang pendiri Persatuan Insinyur Indonesia yang mengawali karirnya sebagai guru SMA Muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1933, setelah menolak tawaran menjadi asisten dosen di Technische Hogeschool ini, meninggal pada tahun 1963 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Jika ingin mengenal lebih dekat kiprah Pak Djuanda, kita dapat melihat-lihat koleksi museum yang berlokasi di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Hutan lindung itu terletak tak jauh dari ujung utara Jalan Dago. Kita sudah sering sekali mendengar nama beliau yang merupakan nama resmi Jalan Dago, tak ada salahnya bila kita juga mengenal kehidupan dan jasa-jasa beliau.

Museum Ir. H. Djuanda

tahura-djuanda-museum

 

Salah satu obyek wisata menarik di Dago Pakar, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, adalah bangunan Pusat Informasi dan Museum Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.

Museum tersebut didirikan diantaranya untuk mengenang Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, seorang tokoh asal Tanah Pasundan dan juga seorang pahlawan nasional.

Di ruangan berukuran 8 x 10 meter tersimpan benda-benda kenangan tokoh pejuang yang pada tanggal 28 September 1945 memimpin para pemuda mengambil-alih Jawatan Kereta Api dari Jepang, dan kemudian disusul pengambil-alihan Jawatan Pertambangan, Kotapraja, Keresidenan dan obyek-obyek militer di Gudang Utara, Bandung.

Terdapat bermacam-macam penghargaan yang diterima pahlawan nasional kelahiran Tasikmalaya ini yang tersimpan di dalam museum. Mulai dari piagam penghargaan dari pemerintah RI dan negara-negara asing, hingga medali, kancing, dan wings dari berbagai negara seperti Rusia, Thailand dan Malaysia. Terdapat juga foto Pak Djuanda berukuran besar di dalam museum. Disamping itu ada juga koleksi herbarium dan offset satwa serta artefak purbakala.

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali kita tidak akan tertarik mengunjungi museum tersebut bila tidak mengenal Ir. H. Djuanda lebih dekat.

Curug Dago Dan Prasasti Batu Raja Thailand

IMG_8565Alkisah, ada dua raja Thailand berkunjung ke Bandung yang menurut catatan sejarah terjadi tahun 1818.  Kedua orang raja ini begitu terpesona dengan keindahan curug ini sehingga mereka membuat dua prasasti batu tulis untuk mengenang keberadaan mereka di Bandung. Kedua raja itu adalah Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) dari dinasti Chakri yang pernah berkunjung ke Curug Dago.

Air terjun Curug Dago memiliki ketinggian terjunan air sekitar 12 m dan berada di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut.   Curug ini terbentuk dari aliran sungai Cikapundung yang mengalir dari Maribaya memasuki kota Bandung.

Curug Lalay

 

Curug yang terletak di wilayah Cimahi ini dinamakan Curug Lalay karena memang banyak sekali lalay (kelelawar) ditemukan di sekitar air terjun. Sebagai salah satu curug di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Curug Lalay terkenal dengan kondisi alamnya yang masih asri. Terletak di ketinggian 1.800 meter diatas permukaan laut, Curug Lalay merupakan tempat tujuan wisata yang sangat sejuk.

Curug ini memiliki ketinggian sekitar 30 m saja dan tersembunyi di dalam lembah. Di sisi kiri curug terdapat sebuah cerukan yang menyerupai goa. Disinilah kelelawar-kelelawar itu banyak ditemukan.

Untuk menuju ke Curug Lalay tidaklah mudah karena curug ini tidak seterkenal curug yang lain dan jarang dikunjungi. Selain akses jalan menuju ke curug ini minim, juga tidak adanya papan penunjuk. Satu-satunya penanda yang bisa diandalkan adalah plang Madrasah Ibtidaiyah Cisasawi, Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong. Selain itu dianjurkan untuk banyak bertanya pada penduduk setempat keberadaan curug tersebut.

Kondisi jalan menuju ke Curug Lalay ini hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki melewati kebun penduduk, menyusuri sungai dan naik turun bukit dan lembah.

Curug Omas

 

Curug Lalay 1

Curug Omas berada di dalam Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda di lokasi wisata Maribaya. Curug ini memiliki ketinggian terjunan air sekitar 30 meter dengan kedalaman 10 m yang berada di aliran sungai Cikawari. Di atas air terjun ini terdapat jembatan yang dapat digunakan untuk melintas dan melihat air terjun dari posisi atas. Dari atas jembatan ini akan terlihat bentangan dasar sungai yang merupakan pertemuan dua aliran sungai Cikawari dan Cigulun yang nantinya menjadi daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung Hulu. Aliran ini mengalir dan berbelok membelah kawasan Tahura tersebut. Selain Curug Omas di aliran sungai ini terdapat pula Curug Cigulung, Curug Cikoleang dan Curug Cikawari yang masing-masing berketinggian sekitar 15 m, 16 m dan 14 m. Ketiga curug ini dikenal dengan sebutan Curug Maribaya.
Di kawasan ini juga ada curug lain yaitu Curug Lalay yang lokasinya tak jauh dari Curug Omas.

Goa Belanda

Goa Belanda 1

 

Berada didalam Taman Hutan Ir. H. Djuanda – Bandung, terdapat dua buah gua bersejarah. Dua buah goa yang hanya terpisahkan jarak kurang lebih 400 meter tersebut memiliki nama yang disesuaikan dengan negara penjajah yang berkuasa saat gua tersebut di bangun. Goa Belanda yang dibangun pada tahun 1918 memiliki umur yang sedikit lebih tua dibandingkan “adik”-nya Goa Jepang yang baru dibangun pada tahun 1942. Di Goa Belanda terdapat sekitar 15 lorong dan beberapa ruangan seperti Ruang Kamar untuk tempat istirahat / tidur para Tentara Belanda, Ruang Interogasi untuk para tahanan, Penjara atau Ruang Tahanan.

Terlihat di atap goa seperti bekas ada penerangan lampu dan terdapat pula seperti bekas rel lori semacam alat untuk pengangkutan barang atau sejenisnya. Juga dinding – dindingnya terlihat sudah memakai semen, sepertinya Goa Belanda ini telah mengalami renovasi. Di dalam Goa Belanda masih bisa ditemui lokasi penempatan radio pemancar kuno. Pada salah satu lorong gua juga terdapat rel kereta/lori yang berada di lantai gua. Konon goa ini dulunya digunakan sebagai markas militer, penjara, tempat penyimpanan senjata dan juga tempat pembangkit listrik tenaga air. Sebuah relung gua kecil tak jauh dari goa utama dan terletak sedikit diatasnya, dulunya digunakan sebagai tempat pos jaga.

Goa Belanda 2

Goa Jepang

Goa Jepang 4Tanggal 10 Maret 1942 dengan resmi angkatan Perang Hindia Belanda dengan pemerintah sipilnya menyerah tanpa syarat kepada Bala tentara Kerajaan Jepang dengan upacara sederhana di Balai Kota Bandung. Setelah upacara Panglima Perang Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten dan Gubernur Jendral Tjarda Van Starkenborgh ditawan di Mansyuria sampai perang dunia II selesai. Konon pembangunan Goa ini dilakukan oleh para tenaga kerja secara paksa yang pada saat itu disebut “romusa” atau “nala karta” Goa tambahan ini yang terdapat di daerah perbukitan Pakar tepatnya berada dalam wilayah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda mempunyai 4 pintu dan 2 saluran udara.

Berbeda dengan Goa Belanda yang telah mengalami renovasi di beberapa bagiannya, Goa Jepang masih memiliki struktur bangunan seperti asalnya. Dinding-dinding goa dari batu karang yang keras masih belum dilapisi dengan semen seperti apa yang terjadi pada goa Belanda. Di dalam goa ini juga tidak terdapat instalasi penerangan. Bukan hal yang aneh, melihat dinding goa yang keras pastilah membutuhkan waktu yang lama untuk membangun goa selebar dan seluas itu. Terlebih pada saat itu alat yang digunakan untuk membuat goa masih berupa alat-alat tradisional semacam linggis dan cangkul yang tentunya dibutuhkan pekerja dalam jumlah yang sangat banyak.

Goa Jepang 7

Prasasti Batu Raja Thailand

 

8

 

Alkisah, ada dua Raja Thailand berkunjung ke Bandung yang menurut catatan sejarah terjadi tahun 1818. Kedua orang raja ini begitu terpesona dengan keindahan curug ini sehingga mereka membuat dua prasasti batu tulis untuk mengenang keberadaan mereka di Bandung. Kedua raja itu adalah Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) dari dinasti Chakri yang pernah berkunjung ke Curug Dago.

Tebing Keraton

Tebing Keraton 1

Tebing Karaton merupakan sebuah tebing yang berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda tepatnya berada di Kampung Ciharegem Puncak, Desa Ciburial, Bandung Jawa Barat. Tebing Keraton memiliki pemandangan alam yang sangat eksotis baik pada saat matahari terbit maupun terbenam.

Tidak sulit untuk mencapai Tebing Keraton. Dari pusat kota Bandung, bertolaklah ke arah Dago Pakar, kemudian ke arah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Setelah pintu gerbang Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, beloklah ke kanan. Anda akan melewati rumah-rumah besar dan kemudian perkampungan. Setelah itu Anda akan sampai di sebuah warung dengan baliho besar bertuliskan ‘Warung Bandrek’ alias Warban. Perjalanan belum selesai, lanjutkan perjalanan melewati tanjakan dan jalan berbatu sampai pos teratas, langsung di Tebing Keraton. Di sini, kita bisa memarkir motor dan mobil. Untuk mencapai tebing tersebut, anda hanya perlu berjalan kaki tak sampai 5 menit.

9

BERITA TERBARU
Acara THR.Ir.H.Djuanda, Labo KRETA HERBSAYS, Bandung Sketcwalk.
PIKNIK DI HUTAN Dengan mengangkat tema “Berpiknik Bergembira Bersama” dan “Merayakan Toleransi Keb......


PIC_0669
TAHURA Trail Running Race 2017 23 Januari 2017 Tahura Trail Running Race 2017 event tahunan lari marathon diselenggarakan oleh Indo......


Tahura Tahun Baru
Selamat Tahun Baru 2017     Segenap Pimpinan & Staff Tahura Ir. H. Djuanda mengucapkan…. ” SELAMAT......


IMG_20161228_105405
Penanaman Pohon Obat Tradisional Berdasarkan kenyataan hingga sekarang sumber simplisia nabati sebagian masih diperoleh dengan meneb......


FB_IMG_1482452094333
Festival Cikapundung Festival ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki kawasan sungai Cikapundung agar tidak terc......


'